Definisi dari:
a. Idiobion
b. Koinobion
c. Multiparasitisme
d. Partenogenesis haploid
e. Synovigenik dan Proovigenic
f. Hyperparasitisme
g. Kleptoparasitisme
h. Parasitoid Fakultatif dan Parasitoid Obligat
i. Autoparasitisme
Jawaban
a. Parasitoid idiobion adalah parasit yang mencegah pertumbuhan inang setelah parasitisasi awal, dan khususnya ini melibatkan tahapan hidup inang yang tak bergerak (misalnya, telur atau kepompong), dan hampir tanpa pengecualian mereka tinggal di luar inang. (http://id.wikipedia.org/wiki/Parasitoid)
Parasitoid yang membunuh atau yang melumpuhkan inang setelah meletakkan telur (http://massofa.wordpress.com/2008/01/31/menggunakan-serangga-pemangsa-dan-parasitoid-sebagai-pengendalian-hama/).
b. Parasitoid koinobion memugkinkan inang terus berkembang dan sering tak membunuh atau mengambil makanan dari inang hingga menjadi kepompong ataupun dewasa; yang kemudian khasnya melibatkan hidup dalam inang bergerak. Koinobion dapat dibagi lagi menjadi endoparasitoid, yang tumbuh dalam mangsanya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Parasitoid).
Parasitoid yang tidak membunuh atau tidak melumpuhkan secara permanen setelah melakukan oviposisi (http://massofa.wordpress.com/2008/01/31/menggunakan-serangga-pemangsa-dan-parasitoid-sebagai-pengendalian-hama/).
c. Multiparasitisme adalah parasitisme terhadap inang yang sama oleh lebih dari satu jenis parasitoid primer, superparasitisme adalah parasitisme satu inang oleh banyak parasitoid dari jenis yang sama (http://massofa.wordpress.com/2008/01/31/menggunakan-serangga-pemangsa-dan-parasitoid-sebagai-pengendalian-hama/).
The importance of multiparasitism was first brought forward by the early exponents of biological control, Pemberton & Willard (1918), who concluded that interspecific competition between opiine parasites of fruit flies in Hawaii was responsible for the decrease in numbers of the most effective parasite. This theory was criticized by Smith (1929), who showed that their conclusions were not supported by the data
they presented and suggested that the observed decrease in parasitism was due to other biotic and environmental factors which became effective only when the introduced parasites became fully established. He did not deny that the introduction of several primary parasites of an insect pest might result in some multiparasitism and competition, but contended that this would be more than counterbalanced by the greater percentage parasitism achieved.
Though the most typical condition of multiparasitism is probably that of a host attacked by a sequence of parasites (Tothill, 1922) the occasion also arises when one instar of a host is attacked by two parasites simultaneously. In this form it is strictly analogous to superparasitism which has been analysed experimentally by several authors, notably Salt (1934) and Simmonds (1943). However, despite the frequency with which the occurrence of multiparasitism is mentioned in the literature on biological control, it has received little more than cursory attention, although it is important in the study of insect behaviour and parasite populations. (Fisher, R.C., 1960, A Study In Insect Multiparasitism, Department of Zoology, University of Cambridge. Great Britain, exp. Bud. (1961), 38, 367-375)
d. Ada tiga bentuk partenogenesis yang dijumpai pada parasitoid, yaitu thelyotoky (semua keturunannya betina diploid tanpa induk jantan), deuterotoky (keturunannya sebagian besar betina diploid yang tidak mempunyai induk jantan dan jarang ditemukan jantan haploid), dan arrhenotoky (keturunan jantan haploid tidak mempunyai induk jantan, dan keturunan betinanya berasal dari induk betina dan jantan (diploid) (http://massofa.wordpress.com/2008/01/31/menggunakan-serangga-pemangsa-dan-parasitoid-sebagai-pengendalian-hama/).
e. Synovigenik dan Proovigenic
Menurut Doutt (1973), Godfray (1994) dalam Heriyano (2000), dilihat dari pola pemasakan telur, parasitoid dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu, proovigenic dan synovigenic. Proovigenic adalah kelompok parasoid betina yang memiliki telur-telur yang sudah matang ketika keluar dari pupa, sedangkan yang tergolong synovigenic adalah parasitoid betina yang ketika keluar dari pupa, ovariumnya belum atau sedikit memiliki telur-telur yang matang. Telur diproduksi selama hidupnya.
Golongan synovigenic memerlukan protein untuk kelangsungan produksi telur selama hidupnya yang didapatkan dari embun madu, nektar, dan cairan dari inangnya (host feeding). Makanan inang berperan penting pada golongan synovigenic dibanding proovigenic. Inang selain sebagai tempat peletakkan telur juga sebagai sumber makanan. Makanan dari inang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti makanan sebagai sumber energi dan makanan sebagai sumber nutrisi untuk memproduksi telur. Bila imago parasitoid betina synovigenic tidak memperoleh makanan berprotein atau tidak menemukan inangnya, telur-telur yang masak dalam ovari akan diserap untuk menyediakan energi dan nutrisi. Penyerapan telur merupakan cara yang baik, ketika sumber makanan ditemukan produksi telur terjadi dalam beberapa hari (Godfray 1994). Telur dapat diproduksi kembali bila inang sudah didapatkan.
Menurut Drost dan Carde (1992) dalam Heriyano (2000), bila golongan proovigenic tidak diberi inang maka laju penerimaan inang akan meningkat. Hal ini dapat terjadi karena imago betina memiliki pilihan untuk meletakkan sejumlah telurnya atau tidak sama sekali. Pada golongan synovigenic ketiadaan inang justru dapat menghentikan produksi telurnya. Telur dapat diproduksi kembali bila inang sudah didapatkan. Golongan synovigenic ini lebih bisa mengatur fisiologi reproduksi telurnya terhadap ketersediaan inang daripada spesies proovigenic.
f. Hiperparasit
Parasit pada parasit lain
Hiperparasit, istilah ini agak membingungkan, karena inang dan parasitoid primer dibunuh. Istilah yang lebih baik adalah parasitoid sekunder, atau hiperparasitoid; yang sebagian besar diketahui termasuk ordo Hymenoptera. (http://id.wikipedia.org/wiki/Parasitoid).
g. Kleptoparasitisme, yaitu adanya parasitoid yang sengaja meletakkan telur pada inang yang sudah diparasit oleh parasitoid lain yang tidak sejenis. Parasitoid yang berperilaku demikian disebut kleptoparasitoid ( http://entomologic.blogspot.com/2010/05/parasitoid.html).
In a few cases, asymmetrical interactions between parasitoid species can take a rather different form (Fig. 1c). If P is a primary parasitoid and Q a cleptoparasitoid, Q is intrinsically superior to P through larval combat, but P is extrinsically superior to Q in the search for healthy hosts. However, females of Q have a greater rate of success in finding hosts previously attacked by P than healthy hosts due to their ability to respond to oviposition markers left on hosts by P. Even though P is extrinsically superior in its search for healthy hosts, Q selectively finds hosts attacked by P and steals them for its own progeny production. Thus cleptoparasitism is similar to interference competition in that the inferior species wastes eggs, but differs from interference competition in that the attack rate of previously parasitized hosts is greater than that of healthy hosts. (Mills, N.J., -, Parasitoid Interactions And Biological Control, 1st International Symposium on Biological Control of Arthropods, University of California, Berkeley, California, U.S.A.
h. Parasitoid Fakultatif dan Parasitoid Obligat
a. Facultative
Dapat hidup baik secara parasit maupun non parasit
b. Obligatory
Mutlak parasit
Parasitoid obligat
Parasitoid mempunyai perilaku ganda terhadap puparia lalat. Puparia lalat dapat diperlakukan sebagai tempat perindukkan bagi entuk pradewasa parasitoid akan tetapi bilamana populasi puparia tidak seimbang dengan populasi parasitoid, maka parasitoid akan berperilaku sebagai pembunuh puparia dengan menghisap cairan haemolymphenya. (http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?view=penelitian/hasilcari&status=buka&id_haslit=636.5+KOE+u)
Facultative Hyperparasitism
If P is a primary parasitoid and Q a facultative hyperparasitoid, then Q can attack both primary hosts, developing as a primary parasitoid, and secondary hosts, developing as a hyperparasitoid (Fig. 1d). Thus facultative hyperparasitism is functionally equivalent to intraguild predation. As idiobionts, facultative hyperparasitoids attack the mature larvae or pupae of primary parasitoids once the latter have killed the primary host, a characteristic often referred to as pseudohyperparasitism. Although primary and secondary hosts may provide very similar cues for host searching, facultative hyperparasitoids can have distinct preferences for one or other host and thus the level of antagonism can be very variable.
Obligate Hyperparasitism
If P is a primary parasitoid and Q an obligate hyperparasitoid, the interaction between P and Q is purely trophic rather than competitive (Fig. 1e). Obligate hyperparasitism in common amongst almost all parasitoid assemblages with multiple parasitoid species. In contrast to facultative hyperparasitoids, most obligate hyperparasitoids are koinobionts and tend to attack the secondary host (the primary parasitoid) during its larval stage within the living primary host. While some obligate hyperparasitoids oviposit directly into primary parasitoid larvae within the phytophagous host, others oviposit into a phytophagous host in anticipation of attack by a primary parasitoid or onto surfaces where eggs will be eaten by phytophagous hosts.
i. Autoparasitisme
Referensi:
Fisher, R.C., 1960, A Study In Insect Multiparasitism, Department of Zoology, University of Cambridge. Great Britain, exp. Bud. (1961), 38: 367-375
Heriyano, Nano. 2000. Perubahan Strategi Reproduksi Eriborus argenteopilosus Cameron Sebagai Tanggap Terhadap Ketiadaan Iang Crocidolomia binotalis Zeller. IPB: Bogor
http://entomologic.blogspot.com/2010/05/parasitoid.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Parasitoid
http://massofa.wordpress.com/2008/01/31/menggunakan-serangga-pemangsa-dan-parasitoid-sebagai-pengendalian-hama/
http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?view=penelitian/hasilcari&status=buka&id_haslit=636.5+KOE+u
Tidak ada komentar:
Posting Komentar